Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 30 April 2012

Wanita Karier dalam Islam


BAB I
PENDAHULUAN
 Di masa lampau, wanita masih sangat terikat dengan nilai-nilai tradisional yang mengakar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jika ada wanita yang berkarir untuk mengembangkan keahliannya di luar rumah, maka mereka dianggap telah melanggar tradisi sehingga mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian mereka kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri di tengah-tengah masyarakat.
Sejalan dengan perkembangan zaman, kaum wanita dewasa ini khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar cenderung untuk berperan ganda bahkan ada yang multi fungsional karena mereka telah mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri sehingga jabatan dan pekerjaan penting di dalam masyarakat tidak lagi dimonopoli oleh kaum laki-laki. Sudah tentu hal itu akan berdampak terhadap sendi-sendi kehidupan sosial, baik positif maupun negatif.



BAB II
WANITA KARIER

A.      Pengertian Wanita Karier
   Secara definisi wanita karir bermakna:
1.      Seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius.
2.      Perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain).
Pada masa Rasulullah sendiri, ada banyak wanita yang juga dikenal sebagai wanita karir. di antaranya yaitu Siti Khadijah, istri Nabi, adalah satu di antaranya.
Namun demikian, kita semua tahu bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya tujuan kita hidup di dunia. Pada kenyataannya ekonomi hanyalah sarana untuk menopang sisi-sisi kehidupan yang lain.
Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Sehingga hasilnya ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah. karena segala sesuatu yang baik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah.

B.   Wanita Karir dalam Pandangan Islam
Dalam Islam yang ditekankan bukanlah memamerkan siapa yang berperan paling
banyak, tetapi peran maksimal apa yang dapat kita berikan. Bahwa peran kita
kemudian diakui atau tidak, tidaklah begitu penting. Itulah yang membuat banyak
wanita modern sekarang memilih untuk menjadi seorang wanita karir.
Pada masa Rasulullah sendiri, ada banyak wanita yang juga dikenal sebagai wanita
karir. Siti Khadijah, istri Nabi, adalah satu di antaranya.
Ekonomi merupakan kebutuhan dasar manusia dan itu diakui secara universal .
Quran secara eksplisit memerintahkan kita untuk rajin bekerja sepanjang hari
dalam seminggu tanpa mengenal hari libur, tentu saja dengan tanpa melupkan
ibadah harian yang diwajibkan seperti shalat (QS Al Jum’ah 62 :9).
Namun demikian, kita semua tahu bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya tujuan
kita hidup di dunia. Pada kenyataannya ekonomi hanyalah sarana untuk menopang
sisi-sisi kehidupan yang lain.
Islam adalah agama yang telah lama berkenalan dengan wanita, memposisikan
wanita sesuai fitrah diciptakannya, wanita pun turut memiliki kedudukan mulia
sebagai khalifah layaknya kaum Adam. Peranan sentralnya sebagai pembentuk
generasi shalih menjadi tumpuan utama bagi proses perjalanan kehidupan.
Lantas bagaimana karir wanita dalam perspektif Islam? Islam menjunjung tinggi
derajat wanita, menghormati kesuciannya serta menjaga martabatnya, maka,
dalam kehidupan sehari-hari Islam memberikan tuntunan dengan ketentuan hukum
syariat yang akan memberikan batasan dan perlindungan bagi kehidupan wanita,
semuanya disediakan Islam sebab wanita memang istimewa, agar wanita tidak
menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah terhadap dirinya, semuanya
merupakan bukti bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim terhadap seluruh
hamba-hambaNya.
Allah menciptakan kaum Adam dan Hawa sesuai fitrah dan karakter keduanya yang
unik. Secara alami (sunatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan
melakukan pekerjaan yang berat, menjadi pemimpin dalam segala urusan,
khususnya keluarga, Negara dan lain-lain. Kaum Adam pun dibebani padanya tugas
menafkahi keluarga secara layak. Sedangkan bentuk fitrah wanita yang tidak bisa
di gantikan laki-laki adalah, mengandung, melahirkan, menyusui, serta menstruasi
yang sering mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang,
pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir. Wanita hamil ketika
melahirkan membutuhkan waktu istirahat cukup banyak, kemudian menunggu
hingga 40/60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan tekanan yang demikian
banyak. Ditambah masa menyusui yang menghabiskan waktu selama dua tahun.
Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang di makan sang
ibu, sehingga otomatis dapat mengurangi stamina si ibu. Haruskah “beban” berat
alamiah tersebut diperparah dengan tugas di luar tanggungjawabnya?
 Oleh karena itu, Dînul Islâm menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/ karir
yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak membatasi
haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek yang menyinggung garis-garis
kehormatannya, kemuliaannya dan ketenangannya, yang dapat berakibat pada
pelecehan dan pencampakan. Peran wanita muslimah selain mendidik
anak-anaknya, diharapkan berbuat baik pada suami dan menaatinya setelah
ketaatannya pada Allah Swt. Rasulullah Saw memuji wanita shalihah dengan
haditsnya ketika beliau ditanya tentang siapakah sebaik-baiknya wanita? Rasulullah
Saw bersabda; yang artinya: “Wanita yang menyenangkan jika dipandang, menurut
jika diperintah, tidak mengingkari dirinya dan hartanya sesuatu yang dilarang” (H.R.
An-Nasa’i).

C.   Dampak Positif dan Negatif Wanita Karier
1.  Dampak Positif
a.    Terhadap kondisi ekonomi keluarga
Dalam kehidupan manusia kebutuhan ekonomi merupakan kebutuhan primer yang dapat menunjang kebutuhan yang lainnya. Kesejahteraan manusia dapat tercipta manakala kehidupannya ditunjang dengan perekonomian yang baik pula.
Dengan berkarir, seorang wanita tentu saja mendapatkan imbalan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk menambah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pratiwi Sudamona mengatakan bahwa pria dan wanita adalah “Mitra Sejajar” dalam menunjang perekonomian keluarga. Dalam konteks pembicaraan keluarga yang modern, wanita tidak lagi dianggap sebagai mahluk yang semata-mata tergantung pada penghasilan suaminya, melainkan ikut membantu berperan dalam meningkatkan penghasilan keluarga untuk satu pemenuhan kebutuhan keluarga yang semakin bervariasi.
b.    Sebagai Pengisi Waktu
Pada zaman sekarang ini hampir semua peralatan rumah tangga memakai teknologi yang mutakhir, khususnya di kota-kota besar. Sehingga tugas wanita dalam rumah tangga menjadi lebih mudah dan ringan. Belum lagi mereka yang menggunakan jasa pramuwisma (pembantu rumah tangga), tentu saja tugas mereka di rumah akan menjadi sangat berkurang. Hal ini bisa menyebabkan wanita memiliki waktu luang yang sangat banyak dan seringkali membosankan. Maka untuk mengisi kekosongan tersebut diupayakanlah suatu kegiatan yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.
Diungkapkan oleh Abdullah Wakil bahwa kemudahan-kemudahan yang didapat wanita dalam melakukan tugas rumah tangga, telah menciptakan peluang bagi mereka untuk leluasa mencari kesibukan diluar rumah, sesuai dengan bidang keahliannya supaya dapat mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat sebagai wanita yang aktif berkarya.
c.    Peningkatan sumber daya manusia
Kemajuan teknologi di segala bidang kehidupan menuntut sumber daya manusia yang potensial untuk menjalankan teknologi tersebut. Bukan hanya pria bahka wanitapun dituntut untuk bisa dapat mengimbangi perkembangan teknologi yang makin kian pesat.Jenjang pendidikan yang tiada batas bagi wanita telah menjadikan mereka sebagai sumber daya potensial yang diharapkan dapat mampu berpartisipasi dan berperan aktif dalam pembangunan, serta dapat berguna bagi masyarakat, agama, nusa dan bangsanya.
 d.   Percaya diri dan lebih merawat penampilan
Biasanya seorang wanita yang tidak aktif di luar rumah akan malas untuk berhias diri, karena ia merasa tidak diperhatikan dan kurang bermanfaat. Dengan berkarir, maka wanita merasa dibutuhkan dalam masyarakat sehingga timbullah kepercayaan diri. Wanita karir akan berusaha untuk memercantik diri dan penampilannya agar selalu enak dipandang. Tentu hal ini akan menjadikan kebanggaan tersendiri bagi suaminya, yang melihat istrinya tampil prima di depan para relasinya.
2.  Dampak negatif
Diantara dampak negatif yang ditimbulkan, antara lain:
a.    Terhadap Anak
Seorang wanita karir biasanya pulang ke rumah dalam keadaan lelah setelah seharian bekerja di luar rumah, hal ini secara psikologis akan berpengaruh terhadap tingkat kesabaran yang dimilikinya, baik dalam menghadapi pekerjaan rumah tangga sehari-hari, maupun dalam menghadapi anak-anaknya. Jika hal itu terjadi maka sang Ibu akan mudah marah dan berkurang rasa pedulinya terhadap anak. Survey yang dilakukan di negara-negara Barat menunjukkan bahwa banyak anak kecil yang menjadi korban kekerasan orangtua yang seharusnya tidak terjadi apabila mereka memiliki kesabaran yang cukup dalam mendidik anak.
Hal lain yang lebih berbahaya adalah terjerumusnya anak-anak kepada hal yang negatif, seperti tindak kriminal yang dilakukan sebagai akibat dari kurangnya kasih sayang yang diberikan orangtua, khususnya Ibu terhadap anak-anaknya.
b.    Terhadap Suami
Di kalangan para suami wanita karir, tidaklah mustahil menjadi suatu kebanggaan bila mereka memiliki istri yang pandai, aktif, kreatif, dan maju serta dibutuhkan masyarakat, Namun dilain sisi mereka mempunyai problem yang rumit dengan istrinya. Mereka juga akan merasa tersaingi dan tidak terpenuhi hak-haknya sebagai suami. Sebagai contoh, apabila suatu saat seorang suami memiliki masalah di kantor, tentunya ia mengharapkan seseorang yang dapat berbagi masalah dengannya, atau setidaknya ia berharap istrinya akan menyambutnya dengan wajah berseri sehingga berkuranglah beban yang ada. Hal ini tak akan terwujud apabila sang istri pun mengalami hal yang sama. Jangankan untuk mengatasi masalah suaminya, sedangkan masalahnya sendiripun belum tentu dapat diselesaikannya. Apabila seorang istri tenggelam dalam karirnya, pulang sangat letih, sementara suaminya di kantor tengah menghadapi masalah dan ingin menemukan istri di dalam rumah dalam keadaan segar dan memancarkan senyuman kemesraan, tetapi yang ia dapatkan hanyalah istri yang cemberut karena kelelahan. Ini akan menjadi masalah yang runyam dalam keluarga.
Kebanyakan suami yang istrinya berkarir merasa sedih dan sakit hati apabila istrinya yang berkarir tidak ada di tengah-tengah keluarganya pada saat keluarganya membutuhkan kehadiran mereka. Juga ada keresahan pada diri suami, khususnya pasangan-pasangan usia muda karena mereka selalu menunda kehamilan dan menolak untuk memiliki anak dengan alasan takut mengganggu karir yang tengah dirintis olehnya.
c.    Terhadap Rumah Tangga
Kemungkinan negatif lainnya yang perlu mendapat perhatian dari wanita karir yaitu rumah tangga. Kegagalan rumah tangga seringkali dikaitkan dengan kelalaian seorang istri dalam rumah tangga. Hal ini bisa terjadi apabila istri tidak memiliki keterampilan dalam mengurus rumah tangga, atau juga terlalu sibuk dalam berkarir, sehingga segala urusan rumah tangga terbengkalai. Untuk mencapai keberhasilan karirnya, seringkali wanita menomorduakan tugas sebagai ibu dan istri. Dengan demikian pertengkaran bahkan perpecahan dalam rumah tangga tidak bisa dihindarkan lagi.

d.   Terhadap Masyarakat
Hal negatif yang ditimbulkan oleh adanya wanita karir tidak hanya berdampak terhadap keluarga dan rumah tangga, tetapi juga terhadap masyarakat sekitarnya, seperti hal-hal berikut:
1. Dengan bertambahnya jumlah wanita yang mementingkan karirnya di berbagai sektor lapangan pekerjaan, secara langsung maupun tidak langsung telah mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran di kalangan pria, karena lapangan pekerjaan yagn ada telah diisi oleh wanita. Sebagai contoh, yang sering kita lihat di pabrik-pabrik. Perusahaan lebih memilih pekerja dari kalangan wanita ketimbang pria, karena selain upah yang relatif minim dan murah dari pria, juga karena wanita tidak terlalu banyak menuntut dan mudah diatur.
2.  Kepercayaan diri yang berlebihan dari seorang wanita karir seringkali menyebabkan mereka terlalu memilih-milih dalam urusan perjodohan. Maka seringkali kita lihat seorang wanita karir masih hidup melajang pada usia yang seharusnya dia telah layak untuk berumah tangga bahkan memiliki keturunan. Selain itu banyak pria yang minder atau enggan untuk menjadikan wanita karir sebagai istri mereka karena beberapa faktor; Seperti pendidikan wanita karir dan penghasilannya yang seringkali membuat pria berpikir dua kali untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup. Sementara itu dilain sisi pria-pria yang menjadi dambaan para wanita karir ini -kemungkinan karena terlalu tinggi kriterianya- telah lebih dulu berkeluarga dan membina rumah tangga dengan wanita lain. Hal inilah mungkin yang menyebabkan timbulnya anggapan dalam masyarakat bahwa “Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dapat diraih oleh wanita maka semakin sulit pula baginya untuk mendapatkan pendamping hidup.”

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa:
1. Wanita karier adalah perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius.
2. Dengan berkarier, seorang wanita akan mendapatkan imbalan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk menambah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
3. Wanita karier berdampak Positif terhadap ekonomi keluarga, pengisi waktu luang, peningkatan sumber daya manusia, percaya diri dan lebih merawat pada penampilannya.
4.  Wanita karier juga berdampak negative terhadap perkembangan anak, suami, rumah tangga, dan masyarakat sekitarnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar